Zaman Belanda Terowongan Terpanjang di Indonesia Kisahnya Menyedihkan

0
66

bacasaja.info Terowongan Wilhelmina dibangun oleh perusahaan kereta api zaman Belanda, SS (Staatsspoorwegen) pada tahun 1914 dan mulai digunakan pada 1 Januari 1921. Nama Wilhelmina diambil dari nama seorang ratu dari Kerajaan Belanda yang memiliki nama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Maria. Wilhelmina menjadi Ratu Kerajaan Belanda pada tahun 1890 hingga 1948. Masyarakat setempat sering menyebut terowongan Wilhelmina dengan sebutan terowongan Sumber.

 

Sebenarnya di jalur kereta api Banjar-Cijulang mempunyai banyak jembatan dan 3 terowongan yakni Terowongan Hendrik (100 m), Terowongan Juliana (250 m), dan Terowongan Wilhelmina sebagai yang terpanjang (1.127,1 m).

Mulut terowongan berada di timur laut dan barat daya, membentuk garis lurus. Pada mulut terowongan sisi timur laut terdapat tulisan 165A pada dinding terowongan. Belum diketahui apa makna tulisan tersebut. Lebar terowongan 826 cm, lebar mulut terowongan 400 cm, tinggi 450 cm. Jarak antara mulut terowongan timur laut dengan barat daya sepanjang 1.127,1 m.

Di dalam terowongan terdapat 21 ceruk pada dinding sisi utara. Lantai terowongan berupa tanah perkerasan dengan batu koral, di kanan dan kiri terdapat saluran air. Permukaan dinding terowongan bagian dalam diplester dengan semen hanya pada bagian di mulut terowongan, selebihnya dibiarkan tanpa plesteran.

Pembangunan terowongan Wilhelmina telah menyisakan kisah-kisah seru dan menyedihkan. Konon, pada tahun 1916, penggalian terowongan dan jembatan di daerah ini sempat terhenti karena tidak ada tenaga ahli yang mau bekerja di tempat ini.

Mereka beralasan selain medannya sulit, ada banyak pekerja yang meninggal karena tiba-tiba jatuh sakit. Namun, perusahaan kereta api Belanda terus berusaha menyelesaikan pembangunan jalur ini, sebab jalur ini sangat penting untuk mengangkut hasil bumi berupa kopra yang berlimpah di daerah tersebut.

Pembangunan jalur kereta api Banjar-Cijulang diusulkan oleh pihak swasta pada masa pemerintah Hindia Belanda. Terdapat berbagai argumentasi dan perdebatan tentang perlunya dibangun jalur kereta api ini. Latar belakang dari pengajuan pembangunan jalur kereta api tersebut yaitu kepentingan ekonomi. Di sekitar Banjar terdapat banyak perkebunan yang sangat memerlukan sarana transportasi memadai untuk proses pengangkutan. Semua perkebunan itu milik kalangan swasta dari Eropa.

Hingga pada 3 Februari 1981, dikarenakan matinya jalur kereta api Banjar-Cijulang maka mati pula terowongan ini dan tidak digunakan lagi. Alasannya adalah karena mahalnya biaya operasional dan sedikitnya pemasukan dari para penumpang kereta api di jalur itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here