Sejarah Gunung Yang Dikaitkan Dengan Sang Raja

0
76

bacasaja.info sejarah di Nusantara, system feodalisme dikenal seiring tersebarnya budaya dan agama dari India. Proses itu kemudian melahirkan “sosok raja” di bumi Nusantara dan biasa disebut era Hindu-Budha yang dimulai sekitar abad ke-4 dan ke-5.

Dalam konsep tersebut, sosok raja menjadi pusat konstelasi sosial di mana raja berada di puncak piramida. Kerajaan merupakan mikrokosmos dan raja bertugas mempertahankan keserasian antara mikrokosmos dan makrokosmos (jagad raya).

Menurut R Heine­Geldem seperti dikutip Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid 3, Warisan-Warisan Kerajaan Konsentris (2005: 60), sebenarnya konsepsi itu sudah ada sejak era Babilonia dan diduga masuk ke Nusantara melalui India dan Cina.

Meski demikian, di wilayah Jawa, sebenarnya keberadaan kosmologi Sanskerta dari India bersifat melengkapi bentuk-bentuk pemujaan asli yang lebih kuno.

Dalam tradisi prasejarah Indonesia, masyarakat percaya bahwa roh nenek moyang bertempat di puncak gunung dan mampu mempengaruhi kesejahteraan dan keselamatan manusia di dunia.

Oleh karena itu, roh nenek moyang menjadi gantungan hidup manusia. Pemujaan terhadap roh nenek moyang sebagai ekspresi permohonan dari manusia dan keturunannya agar terhindar dari bencana, sakit, dan kemuliaan dunia adalah kuncinya.

Salah satu cara untuk memuja nenek moyang adalah dengan membangun tempat pemujaan pada sebuah gunung atau bukit.

Kebiasaan membangun struktur atau bangunan besar dari batu untuk kepentingan pemujaan dikenal dengan tradisi Megalitik yang dapat diketahui bersifat universal.

Jadi, ada konsepsi-konsepsi kuno yang sudah ada sebelumnya namun kemudian berpadu dengan budaya dari India, dan salah satunya ditandai dengan pemujaan terhadap Gunung yang dikaitkan dengan sang raja.

Di Asia Tenggara, konsep “raja gunung” boleh dikatakan juga terjadi hampir merata, misalnya munculnya “Raja Gunung” di Funan, Kamboja Kuno.

Sementara orang Jawa kuno menyembah gunung-gunung berapi tertentu sudah berlaku sejak sebelum peradaban sansekerta datang, dan boleh dikatakan, tetap bertahan hingga sampai sekarang.

Contohnya orang Bali hingga kini masih “memuja” Gunung Agung dan penduduk Tengger (Jawa Timur) memuja kawah Gunung Bromo.

Bila ditelusuri, orang Jawa kuno diduga sudah memuja Gunung Meru sebagai pusat jagat raya. Di kemudian hari, Gunung Maha Meru kemudian juga menjadi tempat pemujaan bagi para dewa baik yang bersifat Brahmana maupun Buddhis.

Uniknya, mengadopsi kajian Denny Lombard, diketahui bahwa kosepsi itu kemudian kemudian “bergeser” di mana gagasan “Sang Maharaja” menjadi poros dan harus dianggap sebagai “Penguasa Gunung”, sama seperti Dewa Siva yang di India memang dianggap sebagai penguasa gunung.

Menurut Lombard, berdasarkan petunjuk dari nama-nama wangsa Sailendra, ada kesan bahwa konsep itu menjadi lebih tegas terjadi pada abad ke-11 seperti tercermin dalam Kakawin Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa.

Di dalam Arjunawiwaha, kita temukan apa yang oleh S Supomo dinamakan sebagai “penyebutan pertama yang pasti tentang adanya pemujaan gunung di Jawa.”

Dalam catatan tersebut disebutkan sosok Raja Airlangga yang “memanjatkan pujian kepada puncak Gunung Indraparwata.”

Memasuki abad ke-14, bukti-bukti tentang konsepsi raja sebagai poros dan menguasai gunung yang dipuja, semakin banyak lagi ditemukan. Misalnya dalam Negarakertagama karya Mpu Prapanca.

Disebutkan di dalamnya, rakyat memohon perlindungan Parwanatha, “penguasa gunung”, yang tiada lain adalah raja yang sedang berkuasa, yakni Hayam Wuruk.

Mpu Tantular berbuat serupa dalam karyanya Sutasoma dengan mempersembahkan salah satu lagu pujiannya kepada Girinatha yang artinya juga sama yakni “raja gunung”.

Dan sangat penting pula dalam Tantu Panggelaran yang mengisahkan tentang pemindahan Gunung Meru dari India ke Jawa oleh para dewa.

Tantu Panggelaran adalah sebuah teks prosa yang menceritakan tentang kisah penciptaan manusia di pulau Jawa dan segala aturan yang harus ditaati manusia. Tantu Panggelaran ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan pada zaman Majapahit.

Di dalam Tantu Panggelaran terdapat motif upaya membangun masyarakat beradab atau cerita etiologis tentang munculnya peradaban manusia. Hal ini juga dapat dibandingkan dengan Kodex Hammurabi di Babilonia yang berisi hukum-hukum bagi keteraturan masyarakat setempat.

Di samping itu terdapat perbedaan teologis antara cerita Jawa Pertengahan ini dengan teologi Hindu di India. Di dalam kisah ini diceritakan bahwa Batara Guru adalah ayah dari dewa-dewa yang lainnya.

Gunung menjadi tempat yang keramat, tempat para dewa. Motif ini juga terdapat dalam dunia teologis orientalis. Ishak dipersembahkan di gunung Moria (Yerusalem). Zarathustra atau Zoroaster ketika berkotbah juga naik ke gunung.

Firaun membuat piramida yang juga melambangkan gunung. Agama masyarakat Indonesia kuno juga membuat punden berundak-undak yang juga melambangkan gunung.

Uniknya pula, ketika gunung dinyatakan sebagai puncak suci, dibangunlah sistem mata angin kosmis lengkap dengan candi-candi di lerengnya. Hal ini bisa dilihat contohnya seperti yang ada di Gunung Gunung Penanggungan.

Sepanjang era Hindu-Budha, lereng-lereng gunung dibangun candi hingga pertapaan yang menurut para arkeolog berjumlah tidak kurang dari delapan puluh satu situs.

Contoh lainnya terdapat di Palah (dekat Blitar), tempat raja-raja Mojopahit membangun candi besar Panataran, sebagai candi kerajaan.

Prapanca menyatakan bahwa Hayam Wuruk mengunjunginya berulang kali untuk memberi penghormatan “pada duli Penguasa Gunung.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here