Begini Peristiwa Penyebab Kerajaan Majapahit Runtuh

0
72

bacasaja.info Sejarah mencatat Majapahit pernah menjadi salah satu kerajaan terkuat di tanah Jawa. Kekuasaannya membentang luas di wilayah nusantara.

Puncak kejayaan dan kemegahan Majapahit saat dipimpin Hayam Wuruk. Dia naik tahta menggantikan Tribhuwana Tunggadewi pada 1350 masehi.

Periode surutnya kemegahan Majapahit terjadi setelah kepemimpinan Hayam Wuruk yang berakhir pada 1389 masehi.

Hayam Wuruk turun tahta. Setelah itu, Majapahit memasuki masa surut, kejayaan dan kemegahannya sirna, hingga kemudian runtuh.

Menurut Slamet Muljana dalam buku “Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit (2005)”, kemegahan yang dicapai Majapahit tidak terlepas dari peran Gajah Mada.

Ketika Gajah Mada mangkat, jauh sebelum Hayam Wuruk wafat, Majapahit mulai memasuki periode suram.

Sebabnya, periode keemasan Majapahit adalah masa di mana Gajah Mada melaksanakan program politik penyatuan nusantara.

Gajah Mada diangkat sebagai patih amangku bhumi di Kerajaan Majapahit pada 1336 Masehi, masa Prabu Tribhuwana Tunggadewi.

Saat pengukuhan sebagai patih amangku bhumi, Gajah Mada menyampaikan sumpah untuk menyatukan nusantara di bawah panji Majapahit.

Gagasan penyatuan nusantara kemudian dilaksanakan oleh Gajah Mada, baik selama masa Tribhuwana Tunggadewi maupun saat Hayam Wuruk naik tahta.

Wilayah kekuasaan Majapahit bahkan melebihi dari yang dicita-citakan Gajah Mada, sebagaimana disebut dalam sumpah amukti palapa.

Namun, setelah Gajah Mada meninggal pada tahun Saka 1286 atau tahun Masehi 1364, Majapahit mulai suram.

Gagasan penyatuan nusantara yang dilaksanakan oleh Gajah Mada dan merupakan zaman kegemilangan Majapahit mulai pudar.

“Lambat laun kesatuan nusantara itu pecah akibat perebutan kekuasaan di antara para ahli waris kerajaan,” tulis Slamet Muljana.

Penyebab Runtuh

Berbagai konflik keluarga mewarnai Majapahit setelah masa kepemimpinan Hayam Wuruk, dan berkontribusi pada runtuhnya kerajaan yang didirikan oleh Raden Wijaya.

Menurut Nino Oktorino dalam “Hikayat Majapahit; Kebangkitan dan Keruntuhan Kerajaan Terbesar di Nusantara (2020)”, ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan Majapahit surut hingga kemudian runtuh.

Di antara penyebabnya, yakni perang Paregreg. Perang ini melibatkan antara Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana, sesama kerabat kerajaan.

Wikramawardhana merupakan menantu sekaligus keponakan Hayam Wuruk. Dia diangkat menjadi raja Majapahit menggantikan Hayam Wuruk pada 1389 masehi.

Pengangkatan Wikramawardhana sebagai pemimpin Majapahit ditentang oleh Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk dari seorang selir.

Perselisihan itu akhirnya memuncak. Terjadi peperangan antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabhumi pada 1404 – 1406 masehi.

Wikramawardhana berhasil mengalahkan Bhre Wirabhumi. Namun, kemenangan itu tidak mampu mengentaskan Majapahit dari kemerosotan.

Dalam periode kepemimpinan Wikramawardhana, banyak daerah di wilayah kekuasaan Majapahit yang melepaskan diri tanpa bisa dicegah.

Pengaruh Majapahit yang terus melemah atas daerah-daerah kekuasaannya, diperparah dengan terjadinya wabah kelaparan pada 1426 masehi.

Belum lagi konflik antar keluarga kerajaan semasa Wikramawardhana memimpin Majapahit pada 1389 – 1429 masehi, membuat Majapahit memasuki periode suram.

“Perselisihan yang berkepanjangan pun semakin kerap terjadi diantara anggota keluarga kerajaan,” demikian tulis Nino.

Selain faktor internal, keruntuhan Majapahit juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, yakni menguatnya pengaruh Dinasti Ming dan beberapa daerah bekas bawahan Majapahit.

Setelah Wikramawardhana, Majapahit dipimpin oleh Suhita yang memerintah pada 1429 hingga 1447 masehi. Dia digantikan Sri Kertawijaya (1447-1451 masehi).

“Setelah pemerintahan Kertawijaya tidak ada lagi informasi mengenai para penguasa yang berasal dari dinasti Rajasa. Kemungkinan telah terjadi kudeta yang dilakukan oleh cabang lain keluarga kerajaan,” ungkap Nino.

Catatan sejarah mengungkap beberapa nama yang menjadi pemimpin Majapahit setelah Kertawijaya.

Slamet Muljana, dalam “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (2005)”, menuliskan nama-nama raja Majapahit dari awal berdiri hingga akhir eksistensinya.

Setelah Kertawijaya, sebut Slamet Muljana, Majapahit dipimpin oleh Bhre Pamotan atau Sang Sinagara (1451-1453 masehi), kemudian mengalami kekosongan selama 3 tahun.

Selanjutnya, Majapahit dipimpin oleh Hyang Purwawisesa (1456-1466), Bhre Pandan Alas (1466-1468), lalu Singawardhana (1468-1474) dan Kertabhumi (1474-1478), serta Njoo Lay Wa (1478-1486).

Sebelum akhirnya benar-benar runtuh, Majapahit dipimpin Girindrawardhana atau Dyah Ranawijaya yang memerintah pada 1486-1527 masehi.

Jejak arkeologis peninggalan Kerajaan Majapahit banyak dijumpai di daerah Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Menurut Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, berbagai benda purbakala yang banyak ditemukan di kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan, membuktikan keberadaan dan eksistensi Kerajaan Majapahit di masa lampau.

Majapahit bukan sekedar mitos ataupun dongeng. Jejak arkeologis membuktikan bahwa Majapahit pernah ada di wilayah nusantara dan tumbuh sebagai negara besar dan maju, serta mampu membangun peradaban.

“Berdasarkan bukti arkeologis, Majapahit memang ada, bahkan bukan sekedar pernah ada. Majapahit merupakan negara besar dan memiliki peradaban maju,” kata Wicaksono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here