Sejarah Sunan Kalijaga dan Kidung Penolak Malapetaka

0
205

bacasaja.info DALAM kisah Sunan Kalijaga. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati.

Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.

Van Den Berg menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Di “Babad Tuban ” dituliskan asli Jawa, dinyatakan bahwa Aria Teja alias ‘Abdul Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, Aria Dikara, dan mengawini putrinya. Dari perkawinan ini ia memiliki putra bernama Aria Wilatikta.

Menurut catatan Tome Pires, penguasa Tuban pada tahun 1500 M adalah cucu dari penguasa Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putra Aria Wilatikta.

Sejarawan lain seperti De Graaf membenarkan bahwa Aria Teja I (‘Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, paman Muhammad. Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.

Sementara itu, dari sumber Carita Sejarah Lasem, disebutkan Sunan Kalijaga berasal dari Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kota kecil sekitar 80 km dari Tuban. Baca Juga: Hayam Wuruk, Raja Majapahit yang Persatukan Sumatera-Papua hingga Singapura & Filipina

Masa kecilnya bernama Pangeran Santikusuma. Ia adalah putra terakhir (ke 10) dari Santribadra yang merupakan keturunan trah Majapahit.

“Sejak kecil beliau telah ditinggal ayahnya ke Majapahit dan ibunya telah meninggal sejak usia 2 tahun,” jelas Koh Lam, penggiat sejarah Lasem.

Pangeran Santikusuma sering diajak kakaknya Pangeran Santipuspa ke eyangnya Adipati Tuban (Sunan Bejagung). Di usianya yang beranjak 19 tahun, ia belajar agama Islam kepada Sunan Bejagung (kakeknya) dan juga Sunan Bonang.

Dari kakeknya Pangeran Santikusuma mendapatkan nama Islam yaitu Raden Mas Said atau biasa dikenal Sunan Kalijaga. R.M. Said Santikusuma (Sunan Kalijaga) merupakan salah satu walisongo yang menerapkan penyebaran agama Islam melalui penyesuaian lingkungan dan kebudayaan yang ada di daerah setempat karena kepandaiannya kanjeng Sunan Raden Mas Said (Sunan Kalijaga) untuk mengajak para kaum kejawen. (CSL: 14-15)

Satu di antara karya Sunana Kalijaga adalah” Kidung Rumeksa Ing Wengi”. Kidung ini berfungsi sebagai kidung tolak bala.

“Ana kidung rumeksa ing wengi

Teguh hayu luputa ing lara

Luputa bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluhan tan ana wani

Miwah panggawe ala

Gunaning wong luput

Geni atemahan tirta

Maling adoh tan ana ngarah ing mami

Guna duduk pan sirna.”

“Ada kidung melindungi di malam hari

Penyebab kuat terhindar dari segala kesakitan

Terhindar dari segala petaka

Jin dan setan pun tidak mau

Segala jenis sihir tidak berani

Apalagi perbuatan jahat

Guna-guna dari orang tersingkir

Api menjadi air

Pencuri pun menjauh dariku

Segala bahaya akan lenyap. ”

Kidung ini disusun dalam sastra macapat yang ditulis dalam metrum dhandhanggula. Di buku Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga (2003) dituliskan, kidung berarti sabda atau firman, sebagai teknik membangkitkan konsentrasi dan kekuatan pikiran.

Kidung gubahan Sunan Kalijaga ini sebagai penolak bala kejahatan yang dilakukan malam hari. Dari kejahatan pencurian, sampai yang disebut gaib seperti sihir, teluh dan santet.

Disebutkan, kidung ini masih berfungsi di desa pada masa, misalnya mengusir hama tikus. Setelah berpuasa sehari srmalam, makan sahur dan buka tengah malam. Kidung Rumeksa ing Wengi dibaca sambil mengelilingi pematang sawah atau ladang. Dipercaya, tikus tidak datang ke sawah itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here